Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

MAKANAN HALAL BAGI JIWA

admin February 4, 2019
47 Views

OLEH : NAZARUDDIN

Makan, menjadi hal yang menarik untuk dikaji, karena, semua makhluk hidup sangat bergantung dengan kata tersebut. Artinya, makan menjadi keperluan untuk kelangsungan kehidupan makhluk, dalam memperoleh makanan itu, ada konteks yang berbeda antara manusia dengan hewan. Makan, bagi manusia merupakan keperluan untuk bertahan hidup, sedangkan hidup bagi hewan hanyalah untuk memperoleh makan. Sesungguhnya, hewan dengan hokum rimbanya, merupakan ajaran penting bagi manusia.

                         Walaupun sebagai kebutuhan pokok, namun hasrat makan seseorang relative berbeda, katakana makan hanya untuk kenyang, atau hanya ingin merasakan lezatnya saja, bahkan tidak sedikit pula yang terlena akan kelezatan makanan hingga manusia cendrung berlebihan. Hal ini kerap kali terjadi, hingga manusia cendrung berlebihan. Hal ini kerap kali terjadi, hingga penyakit kian bertambah jenisnya akibat pola makan yang tidak teratur, bak anak ayam mati dilumbung. Barang kali, disini manusia terjebak dengan kerakusan, loba dan tamak atau bahasa lainnya, korupsi, padahal keperluan fisik manusia mempunyai mempunyai takaran. Dalam kamus kata-kata bijak, kerap dipertemukan, orang yang hidupnya hanya untuk makan akan lebih rendah kualitasnya daripada orang yang menjadikan makan untuk memasok energy kedalam tubuhnya, lalu mendedikasikan kehidupannya untuk keilmuan dan kemashlatan umat.

                         Tidak sedikit pula manusia terjebak dalam lingkaran yang jauh dari motivasi hidup humanistic. Hidup yang jauh dari konsepsi alamiah, tentu akan menyumbat potensi jiwa hingga mengurangi sisi kemanusiaannya. Abraham Maslow, dalam teori kebutuhan berpendapat bahwa keperluan manusia itu ibarat piramida, untuk memenuhi keperluan yang lebih tinggi maka keperluan dasar haruslah selesai, lebih lanjut kata maslow, bahwa aktualisasi diri merupakan capaian level manusia yang nyaris sempurna, namun kebanyakan manusia lebih sering terjebak dilevel dasar sehingga amat sedikit manusia yang mampu berasa dilevel keperluan aktualisasi diri.

                         Konsepsi manusia dan keperluan, bagi umat islam sudah sejak bumi ini terkembang digambarkan di dalam Al-Quran surah Al-Baqarah:168 “ Allah Swt berfirman  “ Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu”.

                         Makanan halal lagi baik merupakan rumus Allah SWT untuk manusia yang selalu bersyukur. Kenapa Allah SWT memberikan rumus untuk memperoleh makanan, halal lebih baik ? sebab, makanan yang halal belum tentu baik, bisa saja misalnya makanan yang memiliki zat kimia atau beracun lainnya yang membuat manusia menjadi sakit. Atau mungkin makanan itu baik tapi tidak halal seperti memakan hewan ternak yang di potong tidak dengan menyebut nama Allah SWT. Inilah konsepsi yang paling benar, berlaku untuk seluruh manusia. Kadang kala kita sering lupa dengan ajaran yang luar biasa ini, bahwa makanan itu harus halal lagi baik. Jika makan halal tapi berlebihan itu juga merupakan makanan halal tetapi tidak baik, karena syariat tidak menyukai perbuatan yang berlebihan.

                         Perbuatan yang berlebihan merupakan perbuatan pro musuh (setan) yang menyebabkan manusia terjerumus, sebagaomana yang termuat dal AL-Qur’an surah  Al-A’raf : 31 “ makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan, dan Qs: Al-Isra’ : 27 “ sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-suadara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada tuhannya, serta Qs:35, ayat :36 “sesungguhnya syaitan itu adalh musuh-musuh yang nyata bagimu. Maka anggaplah ia musuh mu, karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. Rasulullah saw juga telah mengajarkan bahwa manusia harus makan itu sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang.

                         Kategori manusia yang diteropong dari pola makan dibagi tiga golongan. Pertama, manusia yang motif kehidupannya hanya untuk makan, maka itu adalah golongan manusia yang rendah. Kedua, manusia yang makan berlebihan berarti dia adalah manusia yang terjerumus dalam kehidupan musuhnya (setan). Ketiga, manusia yang dpat mengendalikan dirinya akan kebutuhan makan adalah manusia yang seimbang. Al-Qur’an sudah mengajarkan bahwa standar halal dan baik paling diperoleh dari sesuatu yang baik pula, bukan dengan menghalalkan segala cara. Seperti korup dan mengambil hak milik orang lain.

                         Akal manusia tidak akan mampu mencerna seluruh apa maksud dari semua perintah Allah SWT, termasuk dari perintah makan halal dan baik, orang yang mengkaji perintah Allah SWT hanya mampu mendapatkan hikmah di balik perintah Allah. Adalah wajib memenuhi kebutuhan dengan mengkonsumsi makanan yang halal dan baik, merupakan perintah Allah SWT. Perintah ini tidak perlu lagi dikritisi dengan kekuatan rasio ilmiah manusia, karena sudah sangat jelas. Mengkonsumsi makanan halal halal dan baik akan memupuk jiwa manusia untuk selalu berbuat baik. Hal ini bisa dilihat dari pola laku kehidupan pribadi sehari-hari. Begitu pula sebaliknya, makanan yang diragui kehalalan dan kebaikannya akan memupuk jiwa manusia kea rah yang tidak baik pula.

                         Standar baik dan tidak baik, tidak bisa dilihat secara kasat mata. Ukurannya adalah akal sehat dan hati nurani. Karena dalam konsep psikologi manusia cendrung memakai topeng dalam kehidupan hanya untuk meraih keinginan. Misalkan dapat kita katakana bahwa seseorang yang korupsi, baik itu korupsi waktu, korupsi uang atau korupsi tenaga adalah perbuatan tidak baik tapi uangnya secara lafzhi halal. Meski tidak dikatakan dia korupsi dimata hokum, namun hati kecilnya tahu bahwa dia sudah korupsi, maka itu adalah korupsi.

                         Standar makanan halal adalah memakan apa yang tidak diharamkan agama. Ini bisa kita dapatkan dari perintah Al-Qur’an : Al-Maidah : 3 “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah swt, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan diharamkan bagimu yang disembelih untuk berhala dan diharamkan juga mengundi nasib dengan anak panah. Untuk standar makanan baik, tentu perlu sejenak menjenguk hati nurani masih-masih hasil makanan yang diambil dari korupsi waktu, tenaga dan uang, hasil makanan yang diperoleh dari menipu itu adlaah sesuatu yang berlawanan dari hati tentu itu bisa dikatakan makanan yang tidak baik . semoga bermanfaat …. Amien