Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

MEMAHAMI PENTINGNYA PERAN GURU

admin March 22, 2019
43 Views

OLEH : NAZARUDDIN

Pepatah Arab mengatakan at thariqah ahammu minal maddah walustadz ahammu min kulihima. Metode lebih penting dibandingkan materi pelajaran, namun guru jauh lebih penting dibandingkan keduanya. Dari pepatah tersebut kita semua menjadi sangat memahami bahwa peran guru adalah segalanya dunia pendidikan. Tanpa kehadiran seorang guru kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya sebuah system pendidikan, tidak perlu jauh-jauh, kita bisa menyaksikan kejadian-kejadian belakangan yang marak terjadi seperti terorisme, radikalisme, tawuran dikalangan remaja, narkoba, seks bebas, korupsi, menurut hemat penulis, besar kemungkinan pelakunya adalah mereka yang belajar agama, dalam hal ini islam, tanpa guru.

Dalam kitab, ta’limul al muata’alim, syekh al zarnuji mengatakan bahwa syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang dalam menuntut ilmu ada enam kecerdasan, kesungguhan, kesabaran, biaya, adanya petunjuk guru, dan ditempuh dengan waktu yang relative lama. Keenam syarat tersebut adalah peranti yang harus dipenuhi oleh seseorang jika ia ingin merengkuh kesuksesan dalam pendidikan. Patut untuk di catat dan digaris bawahi bahwa unsur guru masuk sebagai salah satu prasyarat kesuksesan dalam menempuh pendidikan.

Dewasa ini kita sering mendengar dengan istilah “santri google” istilah ini sesungguhnya merupakan istilah sindiran yang bernada mengejek kepada siapa saja yang cendrung mencari ilmu dn belajar dengan jalan instan tanpa mencari seorang guru. Belajar di dunia virtual dan dunia maya memang kemudahan dizaman digital ini.  Namun patut disayangkan bahwa keadaan yang demikian itu malah tidak semakin mendewasakan cara belajar kita, justru sebaliknya semakin membuat prilaku kita menjadi kekanak-kanakan.

Banyak orang pintar yang baru tiba-tiba secara psikologis selalu menempatkan dirinya sebagai orang pintar atau ingin dirinya selalu dianggap pintar. Orang lain, selain dirinya adalah bodoh. Pandangan seperti itu dewasa ini jamak kita temukan dalam kesehariannya. Tidak sulit untuk mencari manusia-manusia berkarakter seperti ini maka tak heran, bila kita dengan mudah menemukan orang dengan sangat terbuka mencaci dan memaki orang lain hanya karena berbeda pandangan, artinya ada yang hilang dan berlobang dalam sisi kemanusiaannya.

Orang boleh saja pintar setinggi langit, namun jika ia belajar tanpa guru maka sangat mungkin kepintarannya tersebut tidak akan pernah dipupuk serta dibarengi kesantunan, akhlak. Maka yang terjadi pada orang-orang yang pintar seperti ini, selalu ingin mendebat siapapun yang berpandangan berbeda dengan dirinya. Rata-rata orang seperti ini, yang belajar tanpa guru, selalu menjadikan orang diluar dirinya dan diluar pemahamannya sebagai “musuh” yang harus dilawan dan diperangi agar bisa sejalan dengan yang dia pikirkan dan dia pahami.

Sinergi kecerdasan

Dunia modern mengenal tiga pembagian utama kecerdasan secara garis besar : intelektual, emosional, spiritual, dalam menjalani hidup sehari-hari, ketiga kecerdasan tersebut harus, berjalan beriringan. Ketiganya juga membutuhkan bimbingan seorang guru. Tanpa guru, bisa dipastikan kita akan tersesat dirimba raya kehidupan. Namun, persoalannya adalah masih jarang dan semakin langka kita temui orang-orang yang benar-benar menyenergiskan tiga aspek kecerdasan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Jarang kita menemukan orang yang pintar sekaligus berakhlak dan memiliki laku spiritualitas yang baik. Justru yang ada mereka yang cerdas secara intelektual namun alpa disisi emosional dan spiritual. Mereka yang cerdas intelektual dan tumpul emosional akan dengan mudah terbakar amarahnya jika mendapati perbedaan. Tidak dewasa dan cendrung cepat marah. Profil seperti inilah yang belakangan menghiasi media social kita bahkan kita patut menyayangkan atau bahkan bersedih melihat seorang anak muda mencaci maki seorang kiai sepuh, teladan, dan guru bangsa. Kejadian seperti ini, tidak hanya terjadi satu dua kali saja, namun ratusan bahkan ribuan kali terjadi dikehidupan maya maupun nyata.

Adalah hal penting yang fundamental dalam tradisi pesantren yang berkaitan dengan guru tradisi tersebut adalah tradisi menjaga transmisi keilmuan. Kalangan pesantren menyebutnya sebagai sanad. Sanad atau transmisi keilmuan adalah hal yang penting dan tidak boleh diesampingkan dalam menuntut ilmu. System sanad adalah kesinambungan ilmu yang sedang dipelajari oleh seorang murid. Biasanya seorang murid selalu mencari guru yang memiliki sanad atau transmisi keilmuan yang sambung sampai dengan nabi Muhammad saw. Hal itu penting sebagai upaya untuk menjaga otensitas ilmu yang sedang dipelajari.

Maka, dalam pandangan penulis, dalam momentum ini, yang patut kita jadikan renungan nasional adalah kembali memaknai pentingnya kehadiran guru dalam dunia pendidikan. Memperbaiki pendidikan berarti memperbaiki guru. Baik sdmnya maupun kesejahteraannya. Pemerintah harus memberikan perhatian yang lebih kepada guru. Laksmana meiji sudah memberikan contoh nyata ketika jepang melakukan restorasi yang pertama diperbaiki adalah mutu guru. Semoga bermanfaat, Amien.