Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

MEMBANGUN PRIBADI PROGRESIF

admin February 4, 2019
51 Views

OLEH : NAZARUDDIN

Islam bukanlah ajaran yang semata-mata melemparkan pengikutnya ke masa lalu, dimana Rasulullah saw hidup. Tapi islam juga mengajarkan bagaimana pengikutnya menghadapi kenyataan yang ada sekarang dan jauh memandang masa yang akan datang. Pada zamannya, imam abu hanifah sering membuat santri-santrinya bingung, karena sering membahas permasalahan-permasalahan yang belum terbayangkan oleh para santri-santrinya. Jauh sebelum kapal selam ditemukan, hli fiqh yang satu ini sudah membahas mengenai tata cara sholat didasar laut. Dan ketika ditanya santri-santrinya mengapa beliau membahas mengenai tata cara sholat didasar laut, dimana sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada saat itu, beliau menjawab dengan tegas, bahwa hal itu ia lkukan agar bila nanti, masalah itu benar-benar terjadi pada saat itu, dia menjawab bahwa hal itu ia lakukan agar bila nanti masalah itu benar-benar terjadi kita sudah mengerti masalah itu. Syukur-syukur sudah menemukan jalan keluarnya.

                         Apa yang dilakukan Abu hanifah pada zamannya itu mungkin membuat para santrinya bingung. Namun ketika kita melihat realitas yang ada saat ini, dimana bahwa teknologi berkembang dengan begitu cepatnya jauh diatas kemampuan manusia untuk membuat solusi dari efek negatifnya (Horvis,2007) orang-orang sejenis Abu Hanifah ini mungkin justru yang dibutuhkan zaman saat ini. Orang yang mau memandnag jauh ke depan dan mengantisipasi segala permasalahnnya dari sekarang.

                         Membangun kepribadian yang progresif, dalam islam, dapat dilakukan dengan memulai dari yang akhir. Kita harus memulai dimana kita kelak akan berakhir. Akhir kita ada diakhirat, maka dari sana kita memulai menarik garis perjalanan kita. Karakter ajaran dan ajaran yang disampaikan islam selalu mengingatkan akhirat sebagai muara akhir kehidupan. Bila Al-Qur’an sedang membahas tentang kehidupan dunia. Sering kali tiba-tiba menghubungkannya dengan kehidupan akhirat. Kadang kita diajak merenungkan bagaimana kehidupan dunia ini, alam semesta yang indah, lalu tiba-tiba kita di bawa kea lam lain, kea lam akhirat.

                         Demikian pola hadits nabi Muhammad saw, tidak jarang menyinggung masalah akhirat, untuk kemudian membahas tentang masalah keduniawian. Hadist tentang menghormati tamu di awali dengan peringatan kepada hari akhir, maka hormatilah Tamumu”.  Selain itu, kenyataan bahwa islam mengajarkan sikap progresif adalah terbukanya pintu ijtihad. Ini merupakan landasan yang sangat kokoh bagi umat islam agar menjadi umat yang antisipatif. Islam merupakan agama yang paling siap menghadapi segala perubahan zaman. Tergantung kecakapan pengikutnya dalam menelaah dalil-dalil agama islam, termasuk melakukan ijtihad untuk berbagai hal baru yang terus berkembang. Penemuan teknologi kontemporer mulai dari stronomi sampai teori mekanika kuantum ala eiinstein sejatinya merupakan sesuatu yang sudah diceritakan dalam kitab suci umat islam. Dan ijtihad ini hanya bisa dilakukan oleh jiwa-jiwa yang punya kekuatan antisipatif dan punya kemandirian ili yang mempuni.

                         Islam bukanlah ajaran yang semata-mata melemparkan pengikutnya ke masa lalu, kemasa dimana Rasulullah saw hidup. Tapi islam juga mengajarkan bagaimana menghadapi kenyataan sekarang dan jauh memandang ke masa yang akan datang. Semangat ini salah satunya Nampak dari cara islam menjanjikan balasan disurga. Kesenangan surge sebagai balasan yang dijanjikan selalu di jelaskan dengan penggambaran fisik dan dengan penjelasan kenikmatan yang tervisualisasi dengan jelas. Meskipun secara kualitas, kesengan yang belum pernah terlihat, belum pernah dirasakan oleh manusia, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia. Tapi penggambaran yang sangat visualistik seperti sungai-sungai yang mengalir, bidadari, atau minuman dari susu tidak lain dalam rangka membangkitkan umatnya agar menyadari bahwa kesenangan utama adalah disurga. Kesadaran yang sangat kokoh tentang hal ini, akan menguatkan kapasitas antisipatif  seorang mukmin. Sebab, pada dasarnya ia akan berusaha dengan sangat keras, ketika menikmati tujuan kesenangan duniawi, tetap dalam koridor jalan menuju pengharapan akan kesengan akhirat. Islam dalam batas tertentu, telah memberi kabar tentang beberapa peristiwa tertentu yang akan terjadi dizaman mendatang.

                         Misalnya tentang tanda-tanda hari kiamat, tentang peristiwa-peristiwa tertentu diakhir zaman, kita harus mengubah diri kita menjadi pribadi muslim yang antisipasif, bukan pribadi muslim yang reaktif. Sudah menjadi sunatullah, ruang reaksi seharusnya hanya untuk hal-hal yang benar-benar tidak bisa diduga, tidak bisa dirancang. Dan itu biasanya berbentuk musibah yang murni musibah. Menjadi muslim yang progresif bukan berarti menjadikan kita mendahului takdir namun menjadi muslim yang lebih mendahulukan solusi dari pada masalah, punya tujuan yang jelas untuk memaksimalkan kualitas hidup. Subhanallah, semoga bermanfaat. Amien.