Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

MENGEVALUASI SHOLAT KITA

admin March 27, 2019
50 Views

OLEH : H. NAZARUDDIN

Komat kamit gerakan yang dilakukan tanpa ada rasa membahagiakan hati, kita sholat yang terpikir adalah ingin cepat-cepat mengakhirinya. Berapa banyak orang sholat, namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelahnya saja (HR.Abu Daud). Kadang terbesit dipikiran apa sesungguhnya manfaat sholat yang kita lakukan selama ini terasa amat berat dan menjenuhkan. Apa pertanyaan yang sering terlontar dipikiran, kenapa sholatku terasa tidak nikmat ? kenapa sholat kita tidak bisa membahagiakan hati, apakah selama ini sholat kita sudah direspon Allah Swt atau belum ? kita khawatir, kebutuhan terhadap ritual sholat selama ini hanyalah karena kebiasaan yang sering dilakukan berulang-ulang hingga menjadi candu yang sulit untuk ditinggalkan, padahal gunakanlah benar-benar menghadap wajah ke Allah Swt.

Inilah beberapa pertanyaan yang menjadi persoalan penting untuk kita siskusikan. Adapun tujuannya adalah untuk melihat kembali tentang ibadah sholat yang kita lakukan selama ini. Karena pada umumnya orang beranggapan bahwa sholat tidak perlu dievaluasi, yang berhak menilai hanya Allah Swt, selaku manusia kita tidak layak untuk menilaina, semuana urusan Allah Swt, suka tidak suka kita wajib sholat, hal ini tidak perlu dibahas lagi kalau ditanya mengapa sholat ? ia menjawab “biar tidak masuk Neraka, supaya masuk surge “ atausholat itu wajib, kalau tidak dilaksanakan Allah Swt akan marah. Inilah pemahaman yang terkesan agak teosentris yaitu seolah-seolah Allahlah yang butuh peribadatan kita, butuh disembah dan dibesarkan namanya secara hakekat kita belum memahami benar makna dibalik perintah sholat, yang dipahami selama ini hanyalah sholat sebagai sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan dan hasilnya hanya bisa kita raih diakhirat kelak. Sednagkan pengaruhnya terhadap ketenangan hati dan jiwa serta pola laku tak pernah menjadi hal yang serius untuk diperhatikan. Para ustadpun terkadang telah menghabiskan energy yang tidak sedikit untuk meyakinkan jamaah bahwa sholat itu erat kaitannya dengan perilaku, rasa tenang dan bahagia. Tetapi materi yang disajikan itu tetap saja terkesan memaksa dan mengancam perasaan pendengar melalui kutipan ayat dan hadist yang dipadukan dengan fiqih serta metode penyampaiannya. Sehingga membentuk paradigm yang tidak konsisten antara keterpaksaan dan keikhlasan akhirnya perintah sholat menjadi tidak menarik untuk dilakukan.

Jadi, penulis berasumsi bahwa malasnya umat islam melaksanakan sholat salah satu sebabnya adlah karena gagalnya para ulama dan mubaligh dalam menawarkan tentang bagaimana meraih sholat yang membahagiakan hati, menenangkan jiwa serta mencari jawaban atas persoalan hidup bahkan dapat berjumpa dengan tuhannya (Qs:2:45) sebagaimana yang nabi lakukan. Terlebih hidup di era modern ini, jiwa manusia dipenuhi dengan kemelut persoalan dan materi sehingga hatinya menjadi gersang, resah dan tidak tenang, dalam situasi ini kita harus mampu mengemas metode ibadah sebagai terapi bagi jiwa-jiwa yang hampa akan nilai spiritual hingga menjadi segar dan mencerahkan melalui pendekatan sholat, bukan malah menimbulkan sikap pesimis dan rasa takut pada jiwa. Seperti ungkapan “para pendosa tak mungkin bisa khusu’ kemudian bagi yang meninggalkan sholat maka ia akan menjadi kafir atau di era sekian lama di neraka, maka sholatlah.

Hemat penulis, inilah pendekatan klasik yang sangat alternative, sebaiknya tidak di kedepankan dalam penyampaian. Walauun itu juga bahasa ayat dan hadits, tetapi kita harus jeli dalam menangkap substansi perintah yaitu ingin mendorong para muslim untuk sholat dengan penuh keihlasan bukan dalam ketakutan, sebab takut dan rasa ikhlas itu dua hal yang sangat kontradiktif dan tidak mungkin sejalan. Jadi paham tauhid yang kita tanamkan itu bukanlah paham takut dengan Allah tapi bagaimana manusia bisa akrab, nyambung serta damai dengan Allah Swt, sebab, orang patuh karena rasa takut pasti tidak ikhlas, sementara Allah hanya menghargai peribadatan seseorang hanya atas dasar keikhlasan. Yang anehnya lagi setelah menakut-nakuti lewat doktrin keharusan sholat, lalu mereka menganjurkan bahwa tiap kita harus sholat dengan penuh ikhlas. Inilah logika premature yang secara psikologis menjadi beban bagi jiwa.

Ternyata kita belum paham benar bahwa sholat merupakan meditasi tertinggi yang berfungsi sebagai media yang dapat mengantarkan sang diri sejati melalui perjalanan spiritual tanpa batas ke zat yang maha mutlak. Tujuan inilah senantiasa terlupakan oleh kalangan muslim, sehingga jadilah sholat itu suatu rutinitas yang tiada berpengaruh balik bagi pensholatnya, yang muncul hanyalah rasa lelah, capek, berat bahkan terpaksa. Padahal Allah hanya menilai bagi orang yang sholat yang lurus dan ikhlas niatnya (Qs.Al-Bayyinah : 5)

Bicara persoalan sholat kadang kita hanya berorientasi kewilayah Fiqh nya saja. Sehingga mulai melakukan wudhu sampai selesai yang terpikir anya persoalan sah atau tidaknya, bahkan berusaha melakukannya dengan cepat hingga keposisi salam, setelah itu sedikit menaikan tangan kewajah sambil menghentakan nafasa seakan-akan baru saja melepaskan beban berat dari pundaknya, inilah hambatan sholat yang menjadi beban bagi jiwa.   Sholat seperti ini secara fiqh syah, karena rukun dan syaratnya terlaksanakan secara sistematis. Namun persoalannya adalah apakah sholatku sudah direspon Allah Swt atau tidak ? apakah sudah mampu memenangkan jiwa serta membentuk perilaku atau belum.

Dalam sholat, fiqh adalah kegiatan otak kiri untuk mengatur bacaan, gerak dan rakaat. AKtivitas otak kiri ini sangat terbatas dan cendrung menjenuhkan. Seperti halnya seorang siswa yang diperintahkan yang diperintahkan sang guru untuk mengerjakan tugas kimia atau fisika, akan sangat melelahkan karena aktivitas berpikir itu. Tapi berbeda dengan aktivitas otak kanan yang bersifat non verbal seperti mengetahui perasaan emosi, kesadaran makannya kalau ada pertanyaan kenapa sholat itu tidak nikmat ? jawabannya adalah karena para pensholat hanya melakukannnya dengan kegiatan otak kiri (fiqh nya saja), maka tidak ada antara sholat orang dewasa dengan anak-anak yang hanya hafal bacaan dan gerakan tanpa melibatkan emosi dan kesadaran. Ternyata disini, aktivitas fiqh tidak mampu memberi rasa, apakah itu rasa nikmat, rasa bahagia, tenang maupun rasa nyambung ke Allah Swt.

Rasa itu akan muncul ketika kita memperoses aktivitas otak kiri itu melalui otak kanan yang kemudian ditransformasikan ke hati, lalu menghasilkan keheningan, getaran dan rasa nyambung. Jadi sholat itu adalah proses perpaduan antara kegiatan otak kiri dan otak kanan lalu ditransformasikan ke hati hingga menghasilkan rasa nyambung ke Allah Swt. Ia bertemu merasakan ketenangan, melakukan dialog untuk mencari jawaban atas segala persoalan hidup. Inilah posisi ketinggian yang bebas lepas tanpa hambatan dan ikatan materi (alam rendah), sekaligus mencerahkan, ini jugalah sifatnya roh yaitu selalu ingin lepas didalam ketinggian, makannya, nabi saw mengatakan sholat adalah mi’rajnya orang mukmin, yaitu menuju ketinggian illahi serta mengembalikan kesadaran akan diri sejati sehingga tidak dikendalikan oleh dorongan alam rendah seperti rasa lapr, marah, malas dan lainnya.

Rasulullah saw, apabila mengalami kesulitan, maka beliau melakukan sholat sunat dua rakaat untuk mohon petunjuk Allah Swt, ketika beliau sholat seorang sahabat bertanya “wahai rasul, sujudmu tadi lama sekali, aku mengira engkau lupa, hamper saja aku membangunkanmu” dijawab oleh rasul “aku tidak lupa, tetapi aku sedang meminta petunjuk kepasa Allah Swt, atas persoalan umatku, jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu, dan sesungguhnya demikian itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk yaitu meyakini bahwa mereka akan menemui tuhannya dan bahwa mereka kembali kepadanya (Qs.Al-Baqarah : 45-46).

Inilah merupakan konsep dasar bahwa sholat itu bukanlah untuk Allah Swt (Teosentri), akan tetapi untuk kebutuhan manusia (antropolesentri), kemudian sholat bukanlah untuk memberi beba, akan tetapi sebagai jalan untuk memberi kemudahan, selama ini kita pernah menyadari untuk memanfaatkan sholat sebagai alat penolong, sumber kehidupan, penerang jiwa dan tempat kita bertanya tentang persoalan yang sulit dipecahkan. Hal ini dikarenakan kita telah terlanjur menganggap sholat adalah perintah yang tidak terelakan, maka tidak heran kalau sholat merupakan bagi diri, waalahualan bisshowab. Semoga bermanfaat. Amien.