Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Sikapi Kecerdasan Buatan Revolusi 4.0 Dengan Literasi

admin August 24, 2019
64 Views

OLEH : Unyil
Kepala Perpustakaan STAIN Sultan Abdurrahman
Kepulauan Riau

Informasi terkait wacana peran manusia akan diambil alih oleh mesin diberbagai sektor akan terjadi di Indonesia, bahkan sudah ada beberapa pran yang sudah diambil seperti buka-tutup pintu di bandara, rumah sakit, mall dan lainnya, transaksi pengambilan, transfer dan stor tunai di bank sudah mulai tidak melalui teller bank, pintu masuk tol dan lainnya.

Kalau kita lihat di kota-kota maju hampir semua berbasis mesin bahkan alat transfortasi sudah tidak butuh orang untuk mengoprasikan dari tempat satu ketempat lainnya. Orang-orang pada berbicara soal revolusi industri 4.0. “Revolusi industri 4.0 pertama kali digunakan di publik dalam pameran industri Hannover Messe di kota Hannaver, Jerman di tahun 2001”. Dikutip dari zenius.net (19/07/2019).

Kehadiran revolusi industri 4.0 tentu tidak terlepas dari industri revolusi sebelumnya seperti industri 2.0 dan 3.0. Di Era 4.0 kemajuan yang paling dahsyat dampaknya adalah internet, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia internet adalah jaringan kounikasi elektronik yang menghubungkan jaringan komputer dan fasilitas komputer yang terorganisasi di seluruh dunia melalui telpon atau satlit. Kita melakukan kegiatan berinternet artinya melakukan hubungan melalui internet.

Dengan tersedianya fasilitas tersebut kegiatan yang tadinya membutuh bantuan orang/lembaga lain bisa dilakukan sendiri misal kirim surat/dokumen awalnya lewat kantor pos sekarang bisa dilakukan sendiri melalui komputer atau pun handphone.

Memastikan kekahawatiran manusia terhadap ancaman tersebut, penulis mencoba melakukan penelusuran melalui google dengan pertanyaan atau kata kunci Kecerdasan Manusia Diambil Alih Oleh Mesin”  muncul berbagai artikel yang berkenaan dengan hal tersebut, adapun yang muncul adalah Agar pekerjaan anda tidak diambil alih mesin, kuasai kemampuan ini yang diterbitkan oleh edukasi.kompas.com (30/11/2018), Ketika Tugas Manusia Diambil Alih Mesin diterbitkan oleh techno.okezone.com (20/06/2018), Kecerdasan Buatan : Perkembangan dan Dampak diterbitkan oleh dewaweb.com (27/07/2018), Kecerdasan Buatan dan Robot Siap Ambil Alih Peran Manuia i Dunia Kerja diterbitkan oleh wartaekonomi.co.id (17/09/2018), Kecerdasan Buatan Bakal Ambil Alih Pekerjaan Manusia di 2062 diterbitkan oleh liputan6.com (11/06/2017), Robot Mulai Ambil Alih Pekerjaan Manusia diterbitkan oleh cnnindonesia.com (23/09/2016), Mengulas Kehebatan Robot Akan Ambil Alih Dunia Bisa Jadi Benar diterbitkan oleh jawapos.com (6/1/2016), Kecerdasan Buatan dan Robot akan Mulai Ambil Alih Pekerjaan Sederhana diterbitkan oleh world.kbs.co.kr (24/3/2016), Teknologi Kecerdasan Buatan, Peluang atau Ancaman? Diterbitkan oleh beritasatu.com (28/06/2019), Mengulas Kehebatan Robot Akan Ambil Alih Dunia Bisa Jadi Benar diterbitkan oleh indopos.co.id (6/1/2018).

Terdapat 10 judul yang membahas persoalan kecerdasan mesin yang ada pada halaman pertama pencarian google, Berbagai sudut pandang yang diangkat terkait perkembangan teknologi. Artinya akan terjadi persaingan kecerdasan antara mesin dan manusia, padahal mesin-mesin yang cerdas itu buatan manusia sendiri yang sengaja dibuat sesuai kebutuhan tujuannya untuk mempercepat suatu pekerjaan dengan volume yang besar, jarak yang jauh dan lainnya. Dengan bukti-bukti tersebut manusia mulai mempercai mesin untuk melakukan berbagai aktivitas.

Imbas Bagi Manusia

Kecerdasan mesin tersebut tentu ada imbasnya bagi kita baik imbas postif maupun negatif.

Imbas Postif pertama tersedianya sumber informasi/ilmu pengetahuan artinya kita bisa dengan mudah memperoleh suatu informasi/ilmu pengetahuan yang kita butuhkan tanpa menghabiskan biaya yang besar dan waktu yang lama.

Kedua meningkatkan produktivitas kerja, dengan adanya teknologi kita bisa dengan mudah melakukan intraksi dalam hal transaksi jual-beli misalnya.

Imabas Negatif pertama hilangnya lapangan pekerjaan bagi manusia, karena peran manusia dalam melakukan pekerjaan diganti oleh mesin.

“Prediksi para konsultan pricewaterhouseCoopers (PwC), robot akan mengambil alih 21 persen pekerjaan di Jepang, 30 persen di Inggris, 35 persen di Jerman, 38 persen di Amerika Serikat pada tahun 2030 mendatang. Dan pada abad berikutnya, robot akan mengambil alih lebih dari 50 persen pekerjaan manusia”. Dikutif dari jalantikus.com (diterbitkan pada 24/1/2017).

Kedua hilangnya keterampilan manusia, misal keterampilan membuat alat permainan, keterampilan berdongen kepada anak-anak dan lainnya. Karena  kita lebih cenderung memberi hal-hal yang sifatnya praktis dan tidak mempertimbangkan keteramiplan padahal keterampilan dalam membuat sesuatu lebih penting karena mereka bisa belajar dari pengalaman yang mereka proleh secara langsung.

Ketiga Ancaman nyawa bisa jadi pembunuh manusia, hal ini bila robot-robot tersebut dibangun untuk alat perang bisa jadi para pembuat kehilangan kendali.

Padahal kecerdasan mesin tersebut merupakan hasil dari kecerdasan manusia, manusia menciptakan berbagai mesin  guna untuk membantu manusia dalam hal bekerja secara masal. Dengan perjalanan waktu kini mesin lebih cerdas dari pembuatnya, sehingga timbul kekahawatiran dengan berbagai prediksi kalau mesin akan ambil alih peran manusia secara global.

Lalu Apa Yang Harus Kita Lakukan

Yang harus kita lakukan dalam menghadapi perkembangan tersebut perlu adanya keterbukaan wawasan dengan cara melalui kekuatan literasi, kita memperkuat literasi baca, literasi budaya, leterasi teknologi, literasi keuangan dan literasi lainnya.

Dengan literasi tersebut kita akan cerdas karena kecerdasan kita bisa bertambah sedangkan mesin kecerdasanya sesuai program yang di muat oleh pembuatnya. Tapi bila literasi kita rendah maka kita akan mendapat imbas negatif dari perkembangan teknologi(mesin) artinya kita akan dikuasai oleh mesin.

Perkuat literasi baca, kita harus memperkuat daya baca mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Mulai dari diri sendiri, kemudian kita ajak anak-anak kita keluarga kita untuk gemar membaca.

Literasi budaya, kita harus memahami budaya dan memberi pemahaman kepada generasi mendatang bahwasanya kita memiliki budaya sebagai identitas bangsa yang mesti kita jaga dan lestarikan.

Literasi teknologi kita pasti mampu menggunakan teknologi yang ada sebagai alat penunjang dalam beraktivitas, dengan tidak menghilangkan keterampilan diri dalam melakukan sesuatu.

Literasi keuangan, pemahaman literasi keuangan perlu dibangun sejak dini.

Kita berharap kecerdasan manusia dari generasi ke generasi terus meningkat, mampu menciptakan mesin merupakan sebuah perestasi kecerdasan manusia yang luar bisa. Namun yang perlu dikembangkan adalah kecerdasan manusia itu sendiri, dengan pemahaman literasi yang baik kecerdasan manusia akan lebih baik.

***


Tulisan ini diterbitkan pada laman OPINI Koran Tanjungpinang Pos, Hari Jum`at Tanggal 21 Juli 2019 | LIHAT